Terpincut Sama Sekretarisku yang Cantik Banget
Tatapan yang Membuka Luka dan Harapan Pagi itu, cahaya mentari menembus tirai jendela ruanganku yang setengah terbuka. Langit Jakarta tampak seperti kanvas besar, dibubuhi warna oranye muda dan abu tipis dari debu yang melayang pelan. Aku duduk di balik meja kerja, dengan secangkir kopi hitam yang mulai kehilangan hangatnya. Di layar laptop, angka dan laporan terus berbaris seperti pasukan tak berperasaan, menuntut perhatian penuh, tapi mataku entah kenapa terus menatap ke arah pintu. Dan di situlah dia — Senia. Sekretarisku. Perempuan yang entah sejak kapan menjadi poros di balik keteraturan hidupku yang berantakan. “Selamat pagi, Pak Tama,” suaranya lembut, tapi cukup untuk menggetarkan sesuatu yang lama beku di dalam dada. Dia datang dengan setumpuk berkas di tangan, wangi parfumnya seperti campuran melati dan hujan pertama yang jatuh di taman — sederhana tapi menenangkan. Aku mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan getar di suara. “Pagi, Senia. Ada laporan dari tim ma...