Tenggelamnya Bahteraku: Luka di Tengah Layar Biru
Tenggelamnya Bahteraku: Luka di Tengah Layar Biru Dulu, aku kira badai paling besar dalam hidupku adalah merintis usaha dari nol. Tapi ternyata, badai yang paling mengguncang datang dari dalam rumah, dari seseorang yang dulu kusebut “istriku”—tulang rusuk yang kuharap akan menua bersamaku. Namaku Arman. Di tahun-tahun itu, Facebook masih jadi hal baru, BBM jadi ajang eksis, dan reuni-reuni sekolah mulai menjamur di mana-mana. Aku sedang sibuk membangun usaha kecil di bidang percetakan. Pelan-pelan mulai naik, meski baru setengah anak tangga menuju kesuksesan. Pulang malam bukan karena foya-foya, tapi karena kerja keras. Demi masa depan. Demi istri dan tiga anakku. Istriku, Wina, mulai sering pamit menghadiri acara reuni. Awalnya kupikir itu hal biasa. “Teman lama, nostalgia,” katanya. Aku percaya. Tapi makin hari, makin sering ia pulang larut malam. Rumah terasa sepi. Anak-anak lebih sering bertanya, “Bunda ke mana?” daripada “Ayah kapan pulang?” Aku mulai merasa ada yang tak beres...