Memilih Bertahan atau Melepaskan Lagi
Aku tak pernah menyangka cinta bisa terasa begitu penuh... dan kosong dalam waktu yang sama. Bersama Raka, aku merasa hidup lagi. Tapi setiap kali aku menatap masa depan, ada tembok tinggi yang selalu menghalangi: restu yang belum juga datang. Hari-hari berlalu, kami masih berkomunikasi. Tapi semuanya berubah perlahan. Nada suaranya tak lagi seantusias dulu, pesan-pesan mulai jarang dibalas cepat, dan pertemuan menjadi semakin singkat. Aku tahu... hubungan kami sedang berada di persimpangan. Konflik yang Menyesakkan Suatu malam, Raka menelpon. “Aku habis ngobrol serius sama Ibu,” katanya. “Aku bilang aku mau serius sama kamu.” “Dan?” tanyaku dengan jantung berdebar. “Ibu masih belum bisa terima. Dia bilang dia gak bisa bayangin aku nikah sama orang yang 'gak satu dunia'.” Kalimat itu menancap di hatiku seperti anak panah. Bukan hanya menyakitkan—tapi juga menyadarkanku betapa berat perjuangan ini. “Jadi... kamu bakal ikut kata Ibu?” suaraku nyaris tak terdengar. Raka...